Selasa, 29 November 2016

Permendikbud No. 20, 21, 22, dan 23 Tahun 2016 tentang SKL, Standar Isi, Standar Proses dan Standar Penilaian

Berkaitan dengan upaya standarisasi pendidikan nasional, Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan sejumlah peraturan baru, diantaranya:
  1. Permendikbud No. 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah yang digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan,standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Dengan diberlakukanya    Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
  2. Permendikbud No. 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah  yang memuat tentang  Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Kompetensi Inti meliputi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan ketrampilan. Ruang lingkup materi yang spesifik untuk setiap mata pelajaran dirumuskan berdasarkan Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
  3. Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang merupakan kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan dasar menengah untuk mencapai kompetensi lulusan. Dengan diberlakukanya    Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
  4. Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan yang merupakan kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Keempat peraturan menteri di atas tidak dapat dilepaskan dari adanya upaya revisi Kurikulum 2013 yang saat ini sedang diterapkan di beberapa sekolah sasaran. Dengan kata lain, keempat peraturan menteri di atas pada dasarnya merupakan landasan yuridis bagi penerapan kurikulum 2013 yang telah direvisi.
Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang keempat peraturan di atas, silahkan klik tautan tautan di bawah ini:
  1. Permendikbud No. 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan
  2. Permendikbud No. 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi
  3. Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses
  4. Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian
  5. Permendikbud No. 24 Tahun  2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

Rabu, 26 Oktober 2016

TAHAPAN PELAKSANAAN GERAKAN LITERASI SEKOLAH



Kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).

Deklarasi UNESCO itu juga menyebutkan bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Kemampuankemampuan itu perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan itu bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.

Gerakan Literasi Sekolah merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Gerakan Literasi Sekolah adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca peserta didik. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca (guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati, yang disesuaikan dengan konteks atau target sekolah). Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan, dan pembelajaran (disertai tagihan berdasarkan Kurikulum 2013). Variasi kegiatan dapat berupa perpaduan pengembangan keterampilan reseptif maupun produktif.
Dalam pelaksanaannya, pada periode tertentu yang terjadwal, dilakukan asesmen agar dampak keberadaan Gerakan Literasi Sekolah dapat diketahui dan terus-menerus dikembangkan. Gerakan Literasi Sekolah diharapkan mampu menggerakkan warga sekolah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk bersama-sama memiliki, melaksanakan, dan menjadikan gerakan ini sebagai bagian penting dalam kehidupan.
Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.
Clay (2001) dan Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan bahwa komponen literasi informasi terdiri atas literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Dalam konteks Indonesia, literasi dini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap selanjutnya. Komponen literasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Literasi Dini [Early Literacy (Clay, 2001)], yaitu kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.

2. Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

3. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
4. Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.

5. Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam prak- tiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.

6. Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benarbenar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.
Menurut Beers (2009), praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a. Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang dapat diprediksi. Tahap perkembangan anak dalam belajar membaca dan menulis saling beririsan antartahap perkembangan. Memahami tahap perkembangan literasi peserta didik dapat membantu sekolah untuk memilih strategi pembiasaan dan pembelajaran literasi yang tepat sesuai kebutuhan perkembangan mereka.

b. Program literasi yang baik bersifat berimbang Sekolah yang menerapkan program literasi berimbang menyadari bahwa tiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, strategi membaca dan jenis teks yang dibaca perlu divariasikan dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Program literasi yang bermakna dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan bacaan kaya ragam teks, seperti karya sastra untuk anak dan remaja.

c. Program literasi terintegrasi dengan kurikulum Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru di semua mata pelajaran sebab pembelajaran mata pelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Dengan demikian, pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.
d. Kegiatan membaca dan menulis dilakukan kapanpun Misalnya, ‘menulis surat kepada presiden’ atau ‘membaca untuk ibu’ merupakan contoh-contoh kegiatan literasi yang bermakna.

e. Kegiatan literasi mengembangkan budaya lisan Kelas berbasis literasi yang kuat diharapkan memunculkan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini juga perlu membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis dapat diasah. Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan.

f. Kegiatan literasi perlu mengembangkan kesadaran terhadap keberagaman Warga sekolah perlu menghargai perbedaan melalui kegiatan literasi di sekolah. Bahan bacaan untuk peserta didik perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia agar mereka dapat terpajan pada pengalaman multikultural.
Agar sekolah mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literasi, Beers, dkk. (2009) dalam buku A Principal’s Guide to Literacy Instruction, menyampaikan beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di sekolah.
a. Mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik dipajang di seluruh area sekolah, termasuk koridor, kantor kepala sekolah dan guru. Selain itu, karyakarya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan bahan bacaan lain di Sudut Baca di semua kelas, kantor, dan area lain di sekolah. Ruang pimpinan dengan pajangan karya peserta didik akan memberikan kesan positif tentang komitmen sekolah terhadap pengembangan budaya literasi.
b. Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat upacara bendera setiap minggu untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan upaya peserta didik. Dengan demikian, setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah. Selain itu, literasi diharapkan dapat mewarnai semua perayaan penting di sepanjang tahun pelajaran. Ini bisa direalisasikan dalam bentuk festival buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya. Pimpinan sekolah selayaknya berperan aktif dalam menggerakkan literasi, antara lain dengan membangun budaya kolaboratif antarguru dan tenaga kependidikan. Dengan demikian, setiap orang dapat terlibat sesuai kepakaran masing-masing. Peran orang tua sebagai relawan gerakan literasi akan semakin memperkuat komitmen sekolah dalam pengembangan budaya literasi.

c. Mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademik. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan tenaga kependidikan untuk peningkatan pemahaman tentang program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya.
Program Gerakan Literasi Sekolah dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan sekolah di seluruh Indonesia. Kesiapan ini mencakup kesiapan kapasitas sekolah (ketersediaan fasilitas, bahan bacaan, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga sekolah, dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan).
Berikut ini tahapan Gerakan Literasi Sekolah
1. Tahap ke-1: Pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan di ekosistem sekolah Pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca dalam diri warga sekolah. Penumbuhan minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi peserta didik.

2. Tahap ke-2: Pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan literasi Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan mengembangkan kemampuan memahami bacaan dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi bacaan pengayaan (Anderson & Krathwol, 2001).



3. Tahap ke-3: Pelaksanaan pembelajaran berbasis literasi Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan pengayaan dan buku pelajaran (cf. Anderson & Krathwol, 2001). Dalam tahap ini ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran). Kegiatan membaca pada tahap ini untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 yang mensyaratkan peserta didik membaca buku nonteks pelajaran yang dapat berupa buku tentang pengetahuan umum, kegemaran, minat khusus, atau teks multimodal, dan juga dapat dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu sebanyak 6 buku bagi siswa SD, 12 buku bagi siswa SMP, dan 18 buku bagi siswa SMA/SMK. Buku laporan kegiatan membaca pada tahap pembelajaran ini disediakan oleh wali kelas.


Sumber buku: Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sabtu, 01 Oktober 2016

ULANGAN HARIAN I SEMESTER 5 KELAS 9 SPENSA

ULANGAN BULANAN
PRAKARYA KELAS 9 SMP NEGERI 1 MEDAN 
(Apabila Menggunakan SmartPhone berbasis Android, Klik Rotasi to Start)
 

KLIK DAN MASUK KE KELAS MU
KLIK NAMAMU DAN MASUK KE SOAL
DENGAN PASSWORD MU!

DAN JAWABLAH SOAL DENGAN TELITI, DALAM WAKTU 30 MENIT
JAWABAN CORRECT ANSWER SEBELUM MENGKLIK TOMBOL FINISH ATAU HABIS WAKTU.

SOAL UNTUK KELAS 
SOAL UNTUK KELAS 
   
SOAL UNTUK KELAS

SOAL UNTUK KELAS 

SOAL UNTUK KELAS 

SOAL UNTUK KELAS 

SOAL UNTUK KELAS 
SOAL UNTUK KELAS 

selamat bekerja

 

Jumat, 30 September 2016

ULANGAN BULAN SEPTEMBER KELAS 7 SMP NEGERI 1 MEDAN

ULANGAN BULANAN
PRAKARYA KELAS 7 SMP NEGERI 1 MEDAN.
(Apabila Koneksi Menggunakan SmartPhone berbasis Android, harus diset RotasiNya Landscape)

KLIK DAN MASUK KE KELAS MU
PILIH NAMA MU
DAN JAWABLAH SOAL DENGAN TELITI, DALAM WAKTU 30 MENIT
JAWABAN DAPAT DIRALAT(DIPERBAIKI) SEBELUM MENGKLIK TOMBOL FINISH

SOAL UNTUK KELAS 

SOAL UNTUK KELAS 


SOAL HANYA UNTUK HARI SABTU 01 OKTOBER 2016 SAJA.
SOAL DITUTUP PUKUL 23.59

Rabu, 28 September 2016

ULANGAN BULANAN KELAS 8

ULANGAN BULANAN
PRAKARYA KELAS 8 SMP NEGERI 1 MEDAN.
(Apabila Koneksi Menggunakan SmartPhone berbasis Android, harus diset RotasiNya Landscape)

KLIK DAN MASUK KE KELAS MU
PILIH NAMA MU
DAN JAWABLAH SOAL DENGAN TELITI, DALAM WAKTU 20 MENIT
JAWABAN DAPAT DIRALAT(DIPERBAIKI) SEBELUM MENGKLIK TOMBOL FINISH

SOAL UNTUK KELAS 

SOAL UNTUK KELAS 


SOAL HANYA UNTUK HARI SABTU 01 OKTOBER 2016 SAJA.
SOAL DITUTUP PUKUL 23.59

Jumat, 23 September 2016

DOWNLOAD MODUL GURU PEMBELAJAR TINGKAT SMP

Sebagaimana diketahui, kegiatan diklat guru pembelajar sebagai tindak lanjut UKG 2015 sudah dimulai dengan Pelatihan bagi Instruktur Nasional di beberapa wilayah regional. Selanjutnya Instruktur Nasional ini menjadi mentor bagi guru sasaran, baik moda daring, tatap muka atau kombinasi (daring dan tatap muka).

Bagi peserta guru sasaran, ada baiknya menyiapkan diri dengan cara mempelajari lebih dulu Modul-modul yang akan digunakan pada diklat yang akan datang. Guru sasaran dari diklat Guru Pembelajar ini adalah guru yang telah pernah mengikuti UKG tahun 2015  yang lalu.

Untuk membantu rekan-rekan guru sasaran Guru Pembelajar, khusus Guru SMP Mapel SENI BUDAYA, berikut di bagikan linknya untuk dapat di download dan dipelajari lebih awal.

MODUL SENI BUDAYA SENI RUPA (SMP), Silahkan di klik langsung sesuai dengan KelompokNya.


KELOMPOK KOMPETENSI A PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI A PEDAGOGIK


KELOMPOK KOMPETENSI B PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI B PEDAGOGIK

KELOMPOK KOMPETENSI C PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI C PEDAGOGIK

KELOMPOK KOMPETENSI D PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI D PEDAGOGIK

KELOMPOK KOMPETENSI E PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI E PEDAGOGIK

KELOMPOK KOMPETENSI F PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI F PEDAGOGIK

KELOMPOK KOMPETENSI G PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI G PEDAGOGIK

KELOMPOK KOMPETENSI H PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI H PEDAGOGIK

KELOMPOK KOMPETENSI I PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI I PEDAGOGIK

KELOMPOK KOMPETENSI J PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI J PEDAGOGIK

MODUL SENI BUDAYA SENI MUSIK (SMP)
Silahkan di klik langsung sesuai dengan KelompokNya.

KELOMPOK KOMPETENSI A
KELOMPOK KOMPETENSI B
KELOMPOK KOMPETENSI C
KELOMPOK KOMPETENSI D
KELOMPOK KOMPETENSI E
KELOMPOK KOMPETENSI F 
KELOMPOK KOMPETENSI G M1 
KELOMPOK KOMPETENSI G M2 
KELOMPOK KOMPETENSI H 
KELOMPOK KOMPETENSI I 
KELOMPOK KOMPETENSI J

Link Download Untuk Guru Pembelajar Mapel PPKN SMP

Kelompok Kompetensi A
Materi Profesional : Pengantar PPKN SMP
Materi Pedagogik : Dasar-dasar Perencanaan Pembelajaran, Penilaian dan PTK PPKn SMP.

Kelompok Kompetensi B
Materi Profesional : Konsep Dasar PPKn
Materi Pedagogik : Langkah Penyusunan RPP, Penilaian dan PTK PPKn SMP.

Kelompok Kompetensi C
Materi Profesional : Dinamika Konseptual PPKn SMP
Materi Pedagogik : Prosedur Saintifik dan Penilaian serta Penyusunan Proporsal PTK.

Kelompok Kompetensi D
Materi Profesional : Perkembangan Konsep PPKn SMP.
Materi Pedagogik : Penyusunan Saintifik dan Instrumen Penilaian serta Perencanaan PTK.

Kelompok Kompetensi E
Materi Profesional : Nilai-nilai Dalam PPKn SMP.
Materi Pedagogik : Penerapan Saintifik, Penilaian dan Pelaksanaan PTK.

Kelompok Kompetensi F
Materi Profesional : Implementasi Nilai-nilai PPKn SMP.
Materi Pedagogik : Permasalahan Saintifik, Penilaian serta PTK PPKn SMP.

Kelompok Kompetensi G
Materi Profesional : Permasalahan dalam Implementasi Nilai-nilai PPKn SMP.
Materi Pedagogik : Permasalahan Dalam Penerapan Model Saintifik, Penilaian serta PTK PPKn SMP.

Kelompok Kompetensi H
Materi Profesional : Analisis Permasalahan dalam Implementasi Nilai-nilai PPKn SMP.
Materi Pedagogik : Analisis Antar Unsur Dalam Penerapan Model Saintifik, Penilaian serta Analisis Hasil Data PTK PPKn SMP.

Kelompok Kompetensi I
Materi Profesional : Pengembangan Implementasi Nilai-nilai PPKn SMP.
Materi Pedagogik : Analisis Penerapan Model Saintifik, Penilaian serta Penyusunan Laporan PTK PPKn SMP.

Kelompok Kompetensi J
Materi Profesional : Revitalisasi Nilai PPKn SMP.
Materi Pedagogik : Pengembangan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran dan Penilaian serta Karya Tulis PPKn SMP.


MODUL GP MAPEL BAHASA INGGRIS SMP

KELOMPOK KOMPETENSI A
KELOMPOK KOMPETENSI B
KELOMPOK KOMPETENSI C
KELOMPOK KOMPETENSI D
KELOMPOK KOMPETENSI E
KELOMPOK KOMPETENSI F
KELOMPOK KOMPETENSI G
KELOMPOK KOMPETENSI H
KELOMPOK KOMPETENSI I
KELOMPOK KOMPETENSI J        


MODUL MATEMATIKA SMP, UNDUH LANGSUNG....

KELOMPOK KOMPETENSI A 
KELOMPOK KOMPETENSI B
KELOMPOK KOMPETENSI C
KELOMPOK KOMPETENSI D
KELOMPOK KOMPETENSI E
KELOMPOK KOMPETENSI F
KELOMPOK KOMPETENSI G
KELOMPOK KOMPETENSI H
KELOMPOK KOMPETENSI I
KELOMPOK KOMPETENSI J  

MODUL IPA SMP, LANGSUNG SEDOT.....

KELOMPOK KOMPETENSI A
KELOMPOK KOMPETENSI B
KELOMPOK KOMPETENSI C
KELOMPOK KOMPETENSI D
KELOMPOK KOMPETENSI E
KELOMPOK KOMPETENSI F
KELOMPOK KOMPETENSI G
KELOMPOK KOMPETENSI H
KELOMPOK KOMPETENSI I
KELOMPOK KOMPETENSI J

MODUL DIKLAT GURU PEMBELAJAR IPS SMP

KELOMPOK KOMPETENSI A
KELOMPOK KOMPETENSI B
KELOMPOK KOMPETENSI C
KELOMPOK KOMPETENSI D
KELOMPOK KOMPETENSI E
KELOMPOK KOMPETENSI F
KELOMPOK KOMPETENSI G
KELOMPOK KOMPETENSI H
KELOMPOK KOMPETENSI I
KELOMPOK KOMPETENSI J
 

MODUL DIKLAT GURU PEMBELAJAR PJOK SMP

MODUL A PEDAGOGIK     Unduh Disiko
MODUL A PROFESIONAL Unduh Disiko
MODUL B PEDAGOGIK     Unduh Disiko
MODUL B PROFESIONAL Unduh Disiko
MODUL C PEDAGOGIK+PROFESIONAL Unduh Disiko

MODUL D PEDAGOGIK+PROFESIONAL Unduh Disiko
MODUL E PEDAGOGIK+PROFESIONAL Unduh Disiko
MODUL F PEDAGOGIK+PROFESIONAL Unduh Disiko
MODUL G PEDAGOGIK+PROFESIONALUnduh Disiko
MODUL H PEDAGOGIK+PROFESIONALUnduh Disiko
MODUL I PEDAGOGIK+PROFESIONAL Unduh Disiko
MODUL J PEDAGOGIK+PROFESIONAL Unduh Disiko

MODUL GURU PEMBELAJAR BAHASA INDONESIA SMP

Kelompok Kompetensi A
| Profesional : Hakikat dan Pemerolehan Bahasa. UnduhDisini
| Pedagogik : Karakteristik Peserta Didik.UnduhDisini

Kelompok Kompetensi B
| Profesional : Ragam Bahasa dan Keterampilan Berbahasa UnduhDisini
| Pedagogik : Keterampilan Belajar UnduhDisini

Kelompok Kompetensi C
| Profesional : Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia  UnduhDisini
| Pedagogik : Keterampilan Berbahasa Indonesia UnduhDisini

Kelompok Kompetensi D
| Profesional : Keterampilan dan Kaidah Bahasa UnduhDisini
| Pedagogik : Strategi Pembelajaran. UnduhDisini

Kelompok Kompetensi E
| Profesional : Keterampilan Berbahasa Indonesia, Teori dan Genre Sastra Indonesia. UnduhDisini
| Pedagogik : TIK dalam Pembelajaran. UnduhDisini

Kelompok Kompetensi F
| Profesional : Apresiasi Puisi dan Prosa. UnduhDisini
| Pedagogik : Model Pembelajaran. UnduhDisini

Kelompok Kompetensi G
| Profesional : Menulis Puisi dan Mengapresiasi Teks Drama. UnduhDisini
| Pedagogik : Komunikasi Efektif. UnduhDisini

Kelompok Kompetensi H
| Profesional : Menulis Prosa dan Mementaskan Naskah Drama. UnduhDisini
| Pedagogik : Penilaian Pembelajaran. UnduhDisini

Kelompok Kompetensi I
| Profesional : Aliran-aliran Linguistik. UnduhDisini
| Pedagogik : Pemanfaatan Hasil Penilaian. UnduhDisini

Kelompok Kompetensi J
| Profesional : Kritik Sastra Indonesia. UnduhDisini
| Pedagogik : Refleksi Pembelajaran dan PTK UnduhDisini

MODUL GURU PEMBELAJAR BIMBINGAN DAN KONSELING (BK) SMP

Modul Kelompok Kompetensi A
Pedagogik - Profesional

Modul Kelompok Kompetensi B
Pedagogik - Profesional

Modul Kelompok Kompetensi C
Pedagogik - Profesional

Modul Kelompok Kompetensi D
Pedagogik - Profesional

Modul Kelompok Kompetensi E
Pedagogik - Profesional

Modul Kelompok Kompetensi F
Pedagogik - Profesional

Modul Kelompok Kompetensi G
Pedagogik - Profesional

Modul Kelompok Kompetensi H
Pedagogik - Profesional

Modul Kelompok Kompetensi I
Pedagogik - Profesional

Modul Kelompok Kompetensi J
Pedagogik - Profesional





MASIH DALAM PEKERJAAN

TO BE CONTI......